Pengertian dan Adab Ziarah Kubur Sesuai Sunnah

Pada dasarnya semua ciptaan Allah SWT akan binasa. Misalnya, alam semesta ini. Dia akan mengalami kebinasaan pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan itu menjadi rahasia besar Ilahi. Sama halnya dengan manusia.

Kematian merupakan akhir dari kehidupan dunia yang sementara. Sebagai seorang muslim, tentunya kita meyakini bahwa akan ada kehidupan yang hakiki yang menunggu kita setelah kematian, yaitu kehidupan akhirat yang kekal.

Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, jika ada kerabat yang sudah meninggal dunia, kita yang masih hidup dianjurkan Rasulullah SAW untuk berziarah kubur agar kita dapat banyak-banyak mengingat pemutus kenikmatan dunia, yaitu kematian.

 

Pengertian Ziarah Kubur

Contents

Ziarah artinya kunjungan, ziarah kubur berarti mengunjungi orang yang wafat dalam kuburnya dengan tujuan mendoakan mereka agar diberikan kedudukan atau posisi yang layak di sisi Allah SWT.

Ziarah kubur juga menjadi sarana seorang muslim untuk turut mengingat kematian. Karena dengan mengingat kematian, seorang hamba akan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan tergerak untuk selalu mengerjakan amal saleh sebagai bekal di akhirat kelak.

Ziarah kubur hukumnya dibolehkan, karena Nabi SAW pun mengerjakannya. Bahwa Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk menziarahi makam baqi, dan meminta ampunan kepada para penghuninya. Baqi sendiri merupakan makam tertua di Madinah dan makam yang paling diistimewakan. Rasulullah SAW sering berziar ke Baqi pada gelapnya malam. Ziarahnya Rasulullah ke Baqi sempat diikuti oleh istrinya Aisyah.

 

Adab Ziarah Kubur

Syari’at ajaran agama Islam melalui utusan Nabinya, Rasulullah SAW, telah mengajarkan bagaimana adab ziarah kubur yang perlu kita sunnahkan. Sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya, kemudian memerintah umatnya, dan mengajarkan adabnya. Agar berbuah pahala, ziarah kubur yang kita lakukan harus sesuai dengan tuntunan syari’at. Berikut adab ziarah kubur dan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika ziarah kubur:

1. Menyampaikan Salam dan Berdo’a

Disunahkan mengucapkan salam ketika masuk komplek pekuburan dan mendoakan keselamatan pada mereka, berikut do’a yang diajarkan rasul kepada para sahabatnya

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniin wal muslim, wa inna insyaa alloohu bikum la-laahiquun, wa as-alullooha lanaa walakumul’aafiyah

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

 

2. Melepas sandal ketika masuk pemakaman

Ada baiknya saat berziarah ke kuburan yaitu dengan menerapkan adab membuka sendal atau sepatu dan berjalan di sela-sela kuburan. Dari sahabat Basyir bin al-Khashashiyyah, yang mengisahkan:

“Pada suatu waktu saya berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau melihat orang yang berjalan di area pemakaman dalam keadaan mengenakan sandalnya, maka (segera beliau menegurnya) dengan berkata: Wahai orang yang mengenakan sandal celaka engkau. Lepaskan sandalmu. Orang tersebut lantas menengok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia segerah mencopot sendalnya”. (HR. Abu Dawud An Nasa’i Ibnu Majah, Ahmad)

3. Tidak boleh duduk di atas kuburan dan menginjaknya

Perilaku orang menginjak dan duduk di atas kuburan sering kita lihat saat seseorang melakukan pemakaman atau saat berziarah ke kuburan. Bahkan sering terjadi pada orang penjaga pemakaman yang sedang istirahat dan dengan sembarang duduk di atas makam.

Padahal untuk menjaga kesantunan ketika berada di pemakaman, kita tidak boleh duduk di atas kuburan apalagi sampai menginjaknya. Hal ini bahkan sampai dilarang oleh Nabi kita. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

لاَ تَجْلِسُوْا عَلىَ الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya.”
(HR. Muslim)

dan dari Abu Hurairah RA, Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Seandainya seseorang duduk di atas bara api sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, itu lebih baik baginya dibandingkan duduk di atas kuburan.”
(HR. Muslim)

Hadist di atas menunjukan keharaman dan larangan duduk di atas kuburan, termasuk diharamkan duduk di atas nisannya dan berjalan di atasnya, menginjaknya karena tindakan ini dianggap sebagai sikap tidak menghormati orang yang sudah meninggal. Maka selayaknya kita bersikap sopan santun ketika berada di dekat makam. Bahkan Rasulullah SAW sendiri sampai mengumpamakan duduk di atas bara api lebih baik daripada duduk di atas kuburan.

4. Tidak boleh tawaf di kuburan

Melakukan tawaf di sekitar kuburan dengan niat mendekatkan diri pada Allah, sama halnya dengan melakukan kesyirikan. Karena tawaf dalam arti memutar mengelilingi sesuatu, dengan niat ibadah kepada Allah hanya dilakukan ketika memutari baitul haram (Ka’bah) dalam pelaksanaan ibadah haji atau umroh. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 29,

ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

29. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).

 

5. Dilarang membaca Al-Quran dan shalat di kuburan

Membaca Al Qur’an di sisi kubur termasuk di antara amalan yang tidak ada tuntunan atau ajarannya dari Rasul kita Muhammad SAW, sehingga tidak boleh kita lakukan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا ، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا ، وَصَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ

كُنْتُمْ

jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai Id, bershalawatlah kepadaku karena shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun engkau berada
(HR. Bukhari)

Bacaan Al-Qur’an ini termasuk juga untuk surat yasin. Hadist diatas mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat membaca Al-Qur’an, semua hadist yang memperbolehkan membaca Al-Qur’an di kuburan semuanya adalah tidak sahih.

Begitu pula diharamkan shalat di sisi kubur karena Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya. Seperti sabda Rasulullah SAW berikut,

اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kubur
(HR. Bukhari)

Rangkuman dari kedua hadits di atas menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk shalat dan juga bukan tempat untuk membaca Al Qur’an. Kedua ibadah tersebut handaknya dilakuakan di rumah atau di masjid-masjid, bukan malah di area pekuburan. Maka cukuplah bagi kita memberi salam dan mendo’akan kebaikan terhadap mereka yang meniggal.

6. Tidak boleh meminta pertolongan kepada orang yang sudah meninggal

Kesalahan akidah dalam berziarah kubur, salah satunya adalah menjadikan kubur tempat keramat, meminta perkara dunia kepada orang yang sudah meninggal, ini merupakan perilaku syirik besar. Apalagi hal ini masih banyak terjadi terhadap kubur-kubur wali dan orang-orang soleh.

Allah SWT menyebut pelakunya sebagai orang-orang yang zalim dalam surat Yunus ayat 106 berikut,

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

106. “Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”

Ayat tersebut menerangkan bahwa meminta/ menyembah sesuatu di kuburan termasuk dalam perbuatan orang zalim, orang musyrik adalah orang yang zalim. Perbuatan menyekutukan Allah sama sekali tidak membawa manfaat, bahkan menimbulkan kerusakan dan bahaya yang besar.

7. Tidak boleh meletakkan karangan bunga

Karangan bunga atau menaburkannya di atas kuburan merupakan perbuatan membuang-buang harta secara sia-sia saja. Belum pernah ada riwayat Nabi SAW yang memerintahkan menabur bunga di atas kuburan. Karena sejatinya orang yang sudah meninggal tidak memerlukan hal semacam tersebut.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu beliau bersabda:

 إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ،أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ

“Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah (mengadu domba).”

Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

 لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

 “Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 216 dan Muslim, no. 292)

Ada yang memahami hadits di atas dengan pemahaman keliru. Sebagian mereka berdalil (berargumentasi) dengan hadits ini, tentang bolehnya menanam kurma dan pepohonan di atas kuburan. Mereka mengatakan, bahwa illah (penyebab) diringankan adzab kedua penghuni kubur ini ialah karenak dua pelepah yang masih basah ini senantiasa bertasbih kepada Allah. Adapun yang kering tidak bertasbih. Pendapat seperti ini menyelisihi firman Allah Azza wa Jalla.

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّيُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِن لاَّتَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. [Al Isra’:44].

Seandainya, penyebab diringankan adzab adalah tasbih, tentu tidak ada seorangpun yang mendapatkan siksa di dalam kuburnya, karena debu dan bebatuan yang berada di atas mayit juga bertasbih kepada Allah Azza wa Jalla.

Maka akan lebih bermanfaat seandainya uang untuk membeli bunga tersebut di sedekahkan kepada orang-orang fakir dan miskin dengan diniatkan bersedekah untuk orang yang meninggal, niscaya hal itu dapat lebih bermanfaat untuk si mayit dan bermanfaat untuk orang-orang fakir miskin yang memang membutuhkan bantuan.

8. Tidak boleh mendirikan bangunan di atas kuburan

Tidak diperbolehkan mendirikan bangunan di atas kuburan atau membuat tulisan-tulisan, baik itu dari Al-Quran maupun syair di sekelilingnya, sebab Nabi SAW melarang hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir RA:

Jabir, ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.”
(HR. Muslim).

Rasulullah SAW melarang kita mengapur kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya, seperti kijing, rumah, atau keramik. Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk meratakan kuburan dengan tanah, berikut sabda beliau:

Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku,

“Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut.“

“Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim)

“Boleh kubur dinaikkan sedikit satu jengkal supaya membedakan dengan tanah, sehingga lebih dihormati dan mudah diziarahi.” (At Tadzhib, hal. 95)

Syarat membangun kuburan cukup meletakkan batu setinggi satu jengkal untuk menandai kuburan sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh Nabi SAW di atas kuburan Utsman bin Mazh‘un. Beliau SAW berkata “Dengan batu ini, aku menandai makam saudaraku agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini.”

Buatlah kuburan sesederhana mungkin dan jangan berlebihan terhadapnya. Sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan berlebihan terhadap kuburan dengan wasilah yang akan didapatkan mayit di alam kubur.

Kesimpulan

Kebiasaan-kebiasaan menyelisihi sunnah dalam ziarah kubur masih sering terjadi pada masyarakat kita. Bahkan kuburan menjadi sarana melakukan kesyirikan. Dan ini semua tidak sesuai dengan maksud syariat, yaitu bahwa kuburan seharusnya menjadi pengingat akan akhirat.

Apapun yang tidak Rasulullah SAW kerjakan, maka tidak perlu dilakukan, jadikan rasul panduan, suri tauladan. Sebuah sabda Nabi Muhammad SAW jika seorang meninggal dunia maka terputus sumber pahalanya kecuali dari 3 hal, ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak saleh yang mendoakan. Maka perbanyak amal saleh dengan mendoakan, bersadaqohlah atas nama orang tua kita yang meninggal, ada kesempatan berbuat kebaikan, maka niatkan pahala untuk mereka, ada ilmu yang bermanfaat yang pernah mereka sampaikan, sebarkanlah ilmu tersebut.

Semoga kita bisa senantiasa berpegang teguh atas adab ziarah kubur yang telah Rasulullah SAW ajarkan, Aamiin ya Rabbal Alamin.