Pengertian Dzikir dan Keutamaannya

Pengertian dzikir adalah ibadah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan waktu. Kita dapat melantunkan dzikir sembari berdiri, duduk, maupun bencana. Bahkan berdzikir dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja kecuali beberapa waktu dan tempat tertentu.

Pengertian Dzikir

Contents

                           cr.pinterest

Pengertian dari kata dzikir merupakan kata serapan dari kata dzakara, yadzkuru yang memiliki arti mengingat dan menyebut. Namun ada juga pendapat bahwa pengertian dzikir adalah penyebutan asma Allah dengan mulut, tidak dibenarkan dalam hati, kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan yang baik.

jika ditinjau dari etimologi pengertian dzikir diambil dari kata “zakara” berarti menyebut, menjaga, menyuci. Oleh karena itu dzikir adalah mengingat kegiatan mengingat Allah atas keagungan-Nya, kasih sayang-Nya, rahmat-Nya dan sebagiannya.

Menurut Syekh Abu Ali ad-Daqqaq, pengertian dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat di atas jalan menuju Allah SWT. Bila lebih dipelajari lebih dalam dzikir termasuk tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah.

Pendapat lain juga oleh Ibnu Qadamah mengatakan bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca al-Qur’an selain dari dzikrullah atau mengingat Allah dengan dzikir dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada Allah.

Pada hakikatnya orang yang sedang dzikir adalah orang yang sedang berhubungan dan berkomunikasi dengan Allah SWT.

Menurut para Ulama Pengertian Dzikir

  1. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa untuk mendapatkan ilmu ma’rifat harus didasarkan pada peranan dzikir. Beliau menjelaskan bahwa hati layaknya kolam yang mengalir di dalamnya berbagai jenis air.
  2. Imam Athaillah Al-Iskandary menjelaskan bahwa dzikir harus dilakukan menurut penglihatan hati atau batin dari pemikiran yang paling dalam.

Dalil Dzikir

Di dalam Al-Qur’an kata dzikir itu sendiri disebut sebanyak 267 kali dengan berbagai macam bentuk kata. Berikut contoh dalil dzikir dalam Al-Qur’an:

Allah telah berfirman pada QS.Al-Baqarah:152

Fazkuruuniii azkurkum washkuruu lii wa laa takfuruun

152. “maka ingatlah-Ku, Aku pun akan ingatkan kepada. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

selain itu QS. Al-Baqarah:152, Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-A’raaf: 205

wazkur rabbaka fii nafsika tadhorruaw wa khīfataw wa dụnal-jahri minal-qauli bil-guduwwi wal-āṣāli wa lā takum minal-gāfilīn

Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam bisa termasuk rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu orang-orang yang lengah.”(QS. Al-A’raaf:205)

Dari kedua dalil di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kita harus selalu ingat kepada Allah SWT melalui tasbih, tahmid, takbir, taqdis dan bacaan-bacaan atau wirid lain yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

sedangkan sabda Rasulullah dalam beberapa hadist Nabi, yaitu:

“Tidakkah kamu ingin aku sampaikan, tentang sesuatu yang dapat memperbaiki amalmu, mensucikan amalmu di hadapan Tuhanmu, dan meninggikan kedudukanmu, yang lebih baik bagimu dari bertemu dengan musuh kemudian kamu menebas lehernya atau sebaliknya mereka menebas lehermu?” para sahabat menjawab, “Ya, tentu wahai Rasulullah.” “Dzikir kepada Allah” kata beliau.”(HR.Tirmidzi)

Selain itu Rasulullah SAW juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang dzikir kepada Allah SWT seperti orang yang hidup, sedangkan orang yang tidak pernah berdzikir kepada Allah SWT seperti orang yang mati.

“Perumpamaan orang yang dzikir kepada Allah dan orang yang tidak dzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR.Bukhori).

Allah SWT kemudian mengulangi perintah untuk dzikir kepada Rasulullah, makhluk
yang paling dikasihi untuk memelihara dzikirnya.

Perintah dzikir kepada Rasulullah SAW juga merupakan perintah dzikir kepada umat Rasulullah.

hadist mengenai dzikir bersama-sama

Di bawah ini merupakan hadist tentang keutamaan majelis dzikir. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika suatu kaum duduk dalam satu majelis dan bersama-sama berdzikir kepada Allah, para malaikat akan mengiringi mereka dan kepada mereka rahmat Allah SWT”. Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah, mengatakan, “Jika satu kaum berkumpul berdzikir kepada Allah dan mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah, para malaikat akan mengadu dari langit: berdirilah kalian dengan ampunan Allah kepada kalian dan seluruh penonton kalian telah Allah ganti dengan kebaikan.

Adapun hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dengan sanad yang hasan, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika satu kaum duduk dalam suatu majelis, tetapi selama mereka kumpul itu mereka tidak menyebut asma Allah SWT. Atau shalawat kepada Rasulullah SAW, maka majelis itu akan menjadi penyesalan yang di hari nanti.”

Dzikir bisa diklasifikasikan berdasarkan pada apa yang kita baca.

Menurut Abu Atha’ Al-Sukandari, dzikir dapat menjadi dzikir yang berisi pujian kepada Allah SWT. Seperti, Subhanallah (maha suci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi Allah), laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah), tetapi ada juga dzikir yang berisi doa kepada Allah.

Serta ada juga dzikir yang berisi percakapan kita dengan Allah. Dalam dzikir tersebut hanya terdapat ungkapan perasaan kita kepada Allah.

Dzikir seperti itu disebut munajat, munajat biasanya dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai maqam tertentu.

Etika dalam berdzikir

Kitab Miftah as-sudur  menjelaskan bahwa syarat-syarat berdzikir ada tiga macam:

  1. Hendaklah memiliki wudhu yang sempurna.
  2. Ada jaga berdzikir dengan suara keras.
  3. Hendaklah orang yang berdzikir melakukan gerakan yang kuat.

Di dalam kitab  Tanwir al-Qulub , disebutkan berdzikir juga memiliki etika sebagai berikut:

  1. Bersih dari hadas dan najis.
  2. Berdzikir di tempat yang sepi dari keramaian.
  3. Khusyu’ dalam beribadah seolah-akan melihat Allah, Jika kamu tidak melihat Allah maka yakinilah bahwa Allah melihat engkau.
  4. Menutup pintu agar tidak ada gangguan.
  5. Tutup dua mata dari awal hingga akhir.
  6. Duduk tawarruk dengan tuma’ninah.
  7. Bersungguh-sungguh dan konsentrasi kepada Allah SWT agar segala macam gangguan hati sinar.

Keutamaan dzikir

 

Mengapa kita harus dzikir? karena berdasarkan Al-Qur’an dan hadits keutamaan dzikir adalah kita mendapatkan ketenangan jiwa serta ketentraman hati, juga penghapus dosa.

Saiful Ghofur membahas keutamaan dzikir dalam bukunya Rahasia Dzikir dan Doa, di antaranya adalah:

  • Terlindung dari segala bahaya godaan setan

Setan tidak pernah menyerah untuk menyesatkan manusia, segala macam godaan akan dikerahkan kepada manusia agar lalai dan terlena. Oleh sebab itu, dengan berdzikir kita meminta kepada Allah agar dilindungi dari godaan setan yang terkutuk.

  • Tidak mudah menyerah dan putus

Hakikatnya hidup itu penuh dengan ujian. Adanya ujian itu sendiri untuk menguji sejauh mana kebahagiaan seseorang. Sehingga tidak jarang timbul perasaan menyerah dan putus asa. Padahal, berputus asa merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam.

.

Qul yā ‘ibādiyallażīna asrafụ ‘alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī’ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.(QS.AZumar:53)

  • Memberi ketenangan jiwa dan hati

Hati diibaratkan dengan cermin sedangkan dosa diibaratkan dengan debu. Semakin berbuat dosa semakin hati tertutup. karena itu, perbanyak dzikir agar dosa luntur dan luruh layaknya salju.

 

Fungsi dari dzikir

Shaleh Bin Ghanim As-Sadlan menyebutkan beberapa Keutamaan dzikir dan fungsi dari dzikir adalah sebagai berikut:

  1. Mengalahkan, menghancurkan, serta mengusir setan.
  2. Membuat hati tenang dan gembira.
  3. Menghilangkan rasa resah dan gelisah dalam diri.
  4. Dapat melunturkan dan menghapus dosa-dosa.
  5. Menolong kita dari hari akhir.
  6. Tanaman di surga adalah dzikir.

Selain yang disebutkan di atas fungsi dari dzikir yang lain adalah:

Keutamaan dzikir adalah sebagai penenang dan pembersih hati. Sebagaimana yang tertulis dalam QS. Al-hijr:29

Fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqa’uu lahuu saajidiin

Artinya: “lalu aku titipkan kedalamnya ruh ku”

B. Sebagai pengangkat derajat manusia

Berdasarkan hadist Rasulullah SAW:

“Alangkah baik jika sekiranya memberi tahu Anda tentang sebaik-baik amal dan semurni-murninya disisi maharaja kalian serta sangat tinggi bagi derajat manusia, sekaligus yang lebih baik dari menafkahkan emas dan perak. Juga lebih baik bagi kalian dari menghadapi (dalam pertempuran) musuh.

Sampai akhir hadist, mereka bertanya: Wahai Rasulullah, Apakah itu? Nabi menjawab: Dzikrullah (Ingat kepada Allah).”(HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

C. Sebagai pembaharu iman

Iman seseorang selalu pasang sehingga Nabi memerintahkan banyak dzikir. hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi:

“Perbaruilah imanmu! Sahabat bertanya, bagaimanakah caranya kami iman kami? Nabi menjawab’ perbanyaklah mengucapkan dzikir (lafal): laa ilaaha illallah.”

D. Sebagai saran untuk memperoleh syafaat Rasulullah SAW

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

“Siapakah manusia paling beruntung dengan syafa’atmu pada hari akhir? Rasulullah menjawab’ manusia paling beruntung dengan syafaatku pada hari ini adalah orang yang selalu mengucapkan: laa ilaaha illallah’.”

e. Mendapatkan kasih sayang dan rahmat dari Allah SWT

Allah SWT memiliki sifat  ar-rahman dan  ar-rahim . Allah memberikan rahmat, kasih sayang, dan ampunan kepada ahli dzikir sebagaimana tercantum pada QS.Al-Ahzab:35

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam kepatuhannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar,-laki dan perempuan yang khusu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang telah mendapat penghargaan, perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah untuk berkat mereka dan yang besar .” (QS. Al-Ahzab:35).

Waktu Dzikir

Tidak ada ketentuan dalam masalah waktu untuk berdzikir. akan tetapi ada waktu-waktu yang lebih disukai seperti pada pagi dan petang.

Barang siapa di waktu pagi membaca:

“Tiada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, Dia memiliki segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan dia maha kuasa atas segala sesuatu”

 

Keutamaan dzikir lafadz di atas adalah sama dengan seorang budak keturunan Nabi Ismail sebagai, ditulis selama Sepuluh Kebagusan, dihapus darinya Sepuluh kejelekan, ditinggikan untuknya Sepuluh derajat Serta mendapat Perlindungan dari godaan setan Hingga setiap hari. Sedang apabila ia mengucapkan waktu sakit, maka ia seperti itu hingga pagi hari” (HR. Abu Dawud).

 

Kesimpulannya dzikir merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan dan dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Berdzikir juga merupakan kegiatan mendekat kepada Allah SWT agar mendapatkan ketentraman hati dan ampunan dari-Nya.