Urutan Shalat Jenazah dan Pembahasan Lengkap

Bagi manusia, kematian merupakan proses berpisahnya ruh dari badan seseorang dan kematian merupakan akhir dari sebuah jiwa.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Qs. Ali Imran: 185).

Dalil di atas mengatakan bahwa setiap makhluk yang bernyawa, yang bernafas. Semua akan merasakan apa yang namanya kematian.

Banyak sekali dalil-dalil baik dalam Alqur’an maupun dalam Hadist yang mengingatkan kita akan datangnya kematian.

Waktu kematian tidak dapat diundur maupun dimajukan. oleh sebab itu kita dianjurkan untuk mengingat kematian. Dan kematian tidak memandang umur, harta, dan pangkat.

Ulama tersohor bernama Buya Hamka mengatakan dalam tulisannya di buku Tasawuf Modern.

Bahwa penyebab orang takut untuk menghadapi kematian adalah diri yang tidak memahami apa itu kematian, tiada menginsafi kemana hendak pergi sesudah mati, kemudian karena takut akan mengalami siksa di dalam kubur hingga ketakutan akan siksaan neraka akibat dosa yang dilakukan, dan lebih tepatnya ketakutan serta perasaan sedih hati dan enggan untuk meninggalkan anak dan hartanya.

Kemudian apabila ada saudara kita atau tetangga kita yang meninggal. Kita harus segera merawat jenazah tersebut seperti memandikan, mengkafani, mensholati, dan terakhir adalah menguburkan jenazah tersebut dengan layak.

Pada artikel ini kita akan membahas tentang shalat jenazah beserta Urutan sholat jenazah.

Namun sebelum kita membahas tentang urutan shalat jenazah ada baiknya kita mengetahui tentang shalat jenazah baik secara pengertian, hukum, dalil dan urutan shalat jenazah.

Shalat memiliki berbagai macam salah satu seperti shalat jenazah.

Hukumnya shalat jenazah adalah fardhu kifayah yang artinya adalah suatu kewajiban yang apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian orang, maka sebagian yang lain sudah terbebas dari dosa.

Akan tetapi jika tidak ada yang melaksanakannya maka semua akan mendapatkan dosa.

KH. Muhammad Hanif Muslih Lc menerangkan dalam bukunya yang berjudul Hukum Merawat Jenazah bahwa hukum menshalati jenazah sebagaimana hukum memandikan dan mengafani jenazah, yakni fardhu kifayah.

Pengertian Shalat Jenazah

Contents

Shalat jenazah adalah salah satu jenis shalat yang dilakukan untuk jenazah muslim. Setiap jenazah muslim baik laki-laki dan wanita mendapatkan hak untuk dishalati ketika telah meninggal.

Menurut istilah, shalat jenazah merupakan shalat yang dilaksanakan dengan empat kali takbir, tanpa ruku’ dan suju untuk mendoakan jenazah dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Sedangkan shalat jenazah menurut bahasa ialah sholat untuk mendoakan jenazah.

Dalil Tentang Shalat Jenazah

Ada banyak dalil yang membicarakan tentang pensyariatan shalat jenazah, salah satunya hadits di bawah ini:

hadits paling mashur

Artinya:

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata, “telah didatangkan kepada Rasulullah SAW jenazah yang punya hutang. Beliau bertanya, “Apakah dia meninggalkan harta untuk membayar hutangnya? jika ada maka Rasulllah SAW akan menshalatinya namun jika tidak ada maka Rasulullah enggan menshalatinya.”

Beliau berkata kepada umat islam, shalatilah jenazah saudara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian ada redaksi hadits lainnya, yaitu:

Artinya:

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda yaitu:

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim meninggal, lalu dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, kecuali Allah akan memberikan syafaat kepada jenazah tersebut dengan sebab mereka.” (HR. Muslim no. 984).

Perawatan jenazah memiliki keutamaan yang mulia bagi si jenazah, apabila ia dishalatkan 40 orang muslim yang tidak menyekutukan Allah, maka Allah SWT akan menerima permohonan ampun untuknya.

Ulama dan para ahli fikih sepakat mengatakan bahwa hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah.

Berdasarkan perintah dari Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yaitu:

Yang artinya adalah “dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu bahwa Rasulullah SAW menyiarkan kematian Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka ke tempat shalat, bershaf bersama mereka dan melakukan shalat empat takbir untuknya.” (Muttafaq Alaihi)

Rasulullah SAW juga menjanjikan pahala 2 qiroth, disebutkan di dalam sebuah hadits shahih.

Rasulullah SAW bersabda:

Yang artinya adalah

“Barang siapa yang menyaksikan jenazah lalu menshalatinya maka baginya pahala 1 qirath. Barang siapa yang mengikutinya sampai jenazah dikubur maka baginya pahala 2 qirath”.

Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ”Apakah 2 qirath itu?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Seukuran 2 gunung besar”. (Muttafaqun ‘alahi)

Tata Cara atau Urutan Shalat Jenazah

Rasulullah bersabda dalam suatu hadits tentang urutan shalat jenazah, yaitu

Dari Abi Umamah bin Sahl bahwa seorang sahabat Nabi SAW mengabarkannya bahwa aturan sunnah dalam shalat jenazah itu

adalah imam bertakbir kemudian membaca Al-Fatihah sesudah takbir yang
pertama secara sirr di dalam hatinya.

Kemudian bershalawat kepada Nabi SAW, menyampaikan doa khusus kepada mayit dan kemudian membaca salam. (HR. Al-Baihaqi)

Urutan shalat jenazah jika diuraikan menjadi seperti berikut:

a. Niat.

Segala hal yang baik alangkah baiknya diawali dengan niat dan ucapan basmalah.

Hendaknya mengucapkan lafadz niat di dalam hati

Artinya: “Saya berniat shalat atas mayit ini dengan empat takbir sebagai fardhu kifayah, menjadi imam atau ma’mum karena Allah Ta’ala.”

Apabila jenazah tersebut wanita, maka kata “hadzal mayyiti” diganti dengan kata “hadzihil mayyitati”. 

Kemudian apabila melakukan shalat ghaib atau jenazahnya telah dikubur ataupun beda tempat, maka ditambahkan setelah kata “hadzal mayyiti” dengan kata “ghaiban” atau setelah kata “hadzihil mayyitati” dengan kata “ghaibatan”.

b. Empat kali takbir

Shalat ini terdiri empat kali takbir tanpa ruku’ maupun sujud.

Adapun urutan takbir dalam shalat jenazah adalah:

  1. Takbir pertama membaca surat al-fatihah.
  2. Kemudian dilanjut dengan membaca shalawat nabi.

Artinya:

“Ya Allah, Rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah merahmati Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim, Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung di dalam alam semesta.” (HR Muslim dari Ibnu Mas’ud).

3. Takbir ketiga dilanjutkan dengan mendoakan si mayit.

Artinya adalah “Ya Allah, ampunilah ia dan kasihanilah ia, sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.”

4. Takbir keempat membaca doa lagi untuk mayit.

Artinya adalah “Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami daripada mendapatkan ganjarannya, dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.” (HR. Muslim).

5. Terakhir adalah salam dua kali sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Urutan Shalat Jenazah Menurut Madzhab

Tata cara shalat atau urutan shalat jenazah menurut empat madzhab, yaitu:

1. Hanafiyah

a. Berdiri di depan dada mayit.

b. niat shalat jenazah.

c. takbiratul ihram dengan mengangkat tangan.

d. membaca pujian.

e. takbir tanpa mengangkat tangan.

f. membaca shalawat nabi.

g. takbir ketiga tanpa mengangkat tangan.

h. berdoa untuk si mayit.

i. takbir keempat dengan tanpa mengangkat tangan.

j. salam dua kali untuk salam pertama menghadap kanan dengan niat salam bagi orang di sebelahnya dan salam kedua menghadap kiri dengan niat salam untuk orang di sebelah kiri.

2. Malikiyah

a. berdiri di depan dada mayit.

b. niat shalat jenazah.

c. takbiratul ihram dengan mengangkat tangan

d. membaca doa

e. takbir tanpa mengangkat tangan.

f. berdoa.

g. takbir ketiga tanpa mengangkat tangan.

h. berdoa untuk si jenazah.

i. takbir keempat dengan tidak mengangkat tangan.

j. salam menghadap kanan dengan niat untuk keluar dari shalat.

3. Syafi’iyah

a. berdiri di depan kepala mayit jika itu laki-laki atau berada di pusar untuk mayit perempuan.

b. niat shalat jenazah

c. takbiratul ihram dengan mengangkat tangan

d. membaca ta’awudz dan alfatihah.

e. takbir mengangkat tangan

f. membaca shalawat atas nabi.

g. takbir ketiga mengangkat tangan.

h. berdoa untuk sang mayit.

i. takbir keempat dengan mengangkat tangan.

j. berdoa salam dua kali.

4. Hambaliyah

a. berdiri di dada mayit.

b. niat shalat jenazah.

c. takbiratul ihram dengan mengangkat tangan.

d. membaca ta’awudz dan alfatihah.

e. takbir mengangkat tangan.

f. membaca shalawat atas nabi.

g. takbir ketiga mengangkat tangan.

h. berdoa untuk si mayit.

i. takbir keempat dengan mengangkat tangan.

j. salam menghadap kanan.

Keutamaan Shalat Jenazah

Ada beberapa hadits yang menjelaskan perihal keutamaan dari shalat jenazah seperti berikut,

Artinya,

“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyolati jenazahnya.”

Kuraib berkata, “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul dan
aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab, “Ada 40 orang”.

Kuraib berkata, “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Keluarkan mayit tersebut.

Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim)

Kemudian ada hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at
(mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.” (HR. Muslim)

Dari Malik bin Hubairah Radhiyallahuanhu mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Demikian pembahasan perihal urutan shalat jenazah. Adapun shalat jenazah terdiri dari 4 kali takbir dan tanpa ruku’ maupun sujud.

Semoga artikel ini bermanfaat.