Bolehkah Perempuan Ziarah Saat Haid? Berikut Penjelasannya dalam Islam

Secara biologis, perempuan baligh pasti akan mengalami masa haid di waktu-waktu tertentu tanpa sebab apapun. Haid/ menstruasi merupakan siklus bulanan yang menjadi cara bijak Allah SWT membuat hambanya tetap taat dalam aturan-aturan yang telah Islam tetapkan.

Di luar sana, mungkin ada segelintir perempuan yang menolak agar haid tidak terjadi, karena takut tidak bisa beribadah. Padahal dengan mentaati aturan-Nya (misal: tidak melaksanakan shalat ketika haid) termasuk juga dalam beribadah kepada Allah SWT dan tentu saja akan mendapatkan pahala. Intinya mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya, itu semua berada dalam ranah ibadah kita kepada Allah SWT.

Islam memang melarang perempuan haid melakukan ibadah tertentu seperti misalnya shalat dan puasa. Tapi bagaimana dengan ziarah saat haid? Tidak sedikit yang mengatakan bahwa ziarah saat haid itu dilarang. Lalu bagaimana ajaran Islam memandang perkara ini?

 

Hukum Ziarah Kubur Secara Umum

Contents

Ziarah kubur sendiri adalah sebuah kegiatan mengunjungi makam, dengan tujuan semata-mata mendoakan orang yang telah mendahului kita di makam yang ada di lokasi tersebut agar diberikan kedudukan yang layak di sisi Allah SWT.

Biasanya masyarakat Indonesia punya tradisi berziarah kubur, baik yang dilaksanakan sebelum Ramadhan, atau hari-hari keagamaan lainnya. Sejatinya ziarah kubur itu bukan tradisi, tapi memang anjuran sang Nabi.

Para ulama melarang ziarah kubur dengan mengkhususkan waktu-waktu tertentu, tanpa landasan dalil yang sahih, dengan keyakinan waktu-waktu tersebut lebih mendatangkan pahala atau keberkahan, padahal tidak ada satupun dalil tentang itu.

Pada permulaan Islam, di fase Makkah, Nabi SAW memang melarang keras umatnya untuk ziarah kubur dikarenakan masih lemahnya iman dan mayoritas hanya kuburan orang musyrik. Karena zaman jahiliyah dulu banyak orang kafir yang melakukan ritual yang jauh dari agama Islam, banyak kemusyrikan yang terjadi seperti misalnya menjadikan kuburan sebagai tempat keramat, meminta sesuatu kepada orang yang sudah meninggal, dan sebagainya.

Kemudian ketika tiba saat fase Madinah di mana Islam sudah mulai berkembang, Rasulullah SAW bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Dahulu aku memang pernah melarang ziarah kubur, sekarang berziarah kuburlah karena ia bisa membuat zuhud di dunia dan mengingatkan akan akhirat”

(HR. Muslim)

Hakikat zuhud sendiri adalah mendahulukan akhirat dari dunia tanpa harus meniggalkannya.

Saat masa awal berdakwah Islam di Makkah, Rasulullah SAW memang sempat mengharamkan ziarah kubur karena takut banyaknya kesyirikan terjadi, seperti halnya ritual yang dilakukan kaum Quraisy saat berziarah akan mempengaruhi aqidah umat Islam saat itu. Namun setelah hijrah ke Madinah dan dakwah Islam semakin meluas, tempat pekuburan orang muslim, para syuhada semakin banyak, hukum ziarah kubur menjadi diperbolehkan agar umat Islam bisa mengunjungi makam untuk mendoakan dan selalu mengingat dan mempersiapkan kematian. Namun apakah hukum ini mencakup umum antara laki-laki dan perempuan?

Perempuan boleh melakukan ziarah, pendapat ini juga memiliki landasan syariah. Yaitu mengacu pada riwayat yang menceritakan bahwa Aisyah RA pernah melakukan ziarah kubur.

Dari Abdullah bin Abi Malikah. Suatu ketika Aisyah pulang dari ziarah kubur, maka saya bertanya padanya, “Wahai Ummahatul Mukminin, dari manakah engkau?” Dia menjawab, “Dari kuburan saudaraku, Abdurrahman.”

Aku bertanya lagi padanya, “Bukankah Rasulullah melarang berziarah ke makam?” Aisyah kemudian menjawab, “Benar, Rasulullah SAW pernah melarang ziarah ke makam, tetapi sekarang memerintahkan untuk ziarah ke makam.”
(HR Hakim dan Baihaqi)

 

Hukum Ziarah Saat Haid

Pada dasarnya tidak ada larangan bagi perempuan untuk menshalati jenazah, mengiringi jenazah, dan melakukan ziarah saat haid. Tetapi menurut kesepakatan ulama, perempuan melakukan ziarah kubur dilarang kecuali sudah paham aturan agama, jangan sampai terjadi fitnah selama prosesi ziarah, jadi perempuan harus mengerti batasannya.

Sebab perempuan ziarah saat haid dilarang adalah bukan karena sebab haidnya, tapi karena ada sesuatu yang lainnya, misalnya jika perempuan tersebut berdesak-desakan dengan yang bukan mahram, atau tempatnya tidak terhormat, atau ketika perempuan tersebut tidak mampu menahan kesedihan dan pingsan di tempat pemakaman, maka ziarah menjadi tidak dianjurkan.

Dalam kitab Irsyadatu al-Tsaniyah disebutkan bahwa para perempuan dianjurkan untuk melaksanakan ziarah kubur ke makam para Nabi, pada wali, dan makam orang-orang saleh, asalkan dengan niat yang benar. Dalam anjuran tersebut tidak ada perbedaan antara perempuan yang suci dan perempuan haid, jadi sejatinya perempuan yang haid memang diperbolehkan untuk melaksanakan ziarah kubur.

Pada dasarnya tidak ada larangan bagi wanita untuk menshalatkan jenazah, mengiringi jenazah dengan syarat tidak berdesak-desakan dengan bukan mahram, dan perempuan melakukan ziarah saat haid

Hanya saja ia perlu memperhatikan amalan-amalan apa saja yang akan ia laksanakan ketika berziarah kubur nanti, sebab ada beberapa perbuatan dan ibadah yang dilarang dilaksanakan oleh perempuan haid, dalam kitab Syafinatu Najah setidaknya ada 10 perkara yang dilarang bagi perempuan haid,

berikut diantaranya shalat, pausa, itikaf, thawaf, talaq/ bercerai, kemudian berjima’ antara suami istri, menyentuh mushaf, membaca mushaf, dan masuk ke masjid jika dikhawatirkan akan mengotori masjid.

Ketika ingin berziarah kubur maka perhatikan apakah dari cara ziarah kubur tersebut ada beberapaa atau satu diantara 10 perkara tadi, kalau memang ada, maka beberapa perkara itu tidak perlu dilaksanakan saat ziarah kubur. Akan tetapi hal-hal lain saat berziarah kubur misalnya berzikir dan berdoa tetap diperbolehkan. Jadi bagi perempuan, ziarah saat haid tidak apa-apa, hanya saja jangan berdesakan dengan bukan mahram, jangan berdiam diri di masjid, dan jangan membaca Al-Quran dengan niat membaca Al-Quran di kuburan, bukan hanya karena sedang haid, tetapi membaca Al-Quran di kuburan memang tidak dibolehkan dalam Islam.

 

Tata Cara Melakukan Ziarah Kubur

Ziarah kubur disyariatkan untuk dua tujuan, yang pertama adalah untuk mengingat kematian, dan yang kedua adalah mendo’akan dan mengucap salam kepada orang yang sudah meniggal.

Rasulullah SAW sendiri sangat hati-hati dalam masalah tauhid umatnya, sampai beliau SAW berdo’a kepada Allah SWT untuk meminta supaya jangan jadikan kuburan beliau SAW sebagai sebuah berhala yang disembah. Maka penting bagi kita untuk meluruskan niat ziarah kubur dan menjauhi kesyirikan, berikut tata cara melakukan ziarah kubur:

  1. Niat ikhlas Lillahita’ala
    Niat semata-mata hanya untuk melakukan ziarah kubur seperti sunnah yang dilakukan Rasulullah SAW.
  2. Mengucapkan salam dan do’a
    Memohon rahmat dan maghfirah bagi penghuni kubur.
  3. Berdiri di samping kubur
    Mengambil ibrah, merenungi kematian, mengingat nikmat kubur dan adzabnya, serta kemana tempat kita kembali di akhirat kelak.

 

Do’a Ziarah Kubur

Seorang perempuan dalam keadaan haid tidak diperkenankan untuk membaca Al-Quran, nah bagaimana jika Al-Quran tersebut dipergunakan untuk membaca dzikir ketika sedang ziarah kubur?

Mayoritas ulama berpendapat, selagi ayat tersebut dibaca untuk keperluan dzikir maka diperkenankan, yang tidak boleh adalah membaca Al-Quran dengan niat membaca Al-Quran dan bukan untuk berzikir. Ayat dzikir tersebut dipergunakan untuk menjaga diri dari godaan setan dan mendoakan orang yang sudah tiada.

Berdo’a untuk orang yang sudah meninggal dapat memberikan syafa’at baginya di alam kubur, sekaligus memancarkan kebaikan bagi yang mendoakan.

Rasulullah SAW mengajarkan pada sahabat ketika keluar menuju kubur agar membaca Do’a ini lengkap,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniin wal muslim, wa inna insyaa alloohu bikum la-laahiquun, wa as-alullooha lanaa walakumul’aafiyah

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

dan secara singkat, do’a ziarah kubur adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu

Ya Allah! Ampunilah almarhum (jenazah),berilah dia rahmat-mu, kesejahteraan, serta maafkanlah kesalahannya”

Lalu do’a apa saja yang dianjurkan dibaca ketika ziarah?

  1. Mengucap salam
  2. Membaca istighfar
  3. Membaca surat-surat pendek
    Dalam urutannya adalah; Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas.
  4. Membaca kalimat tahlil: “Laailaaha Illallah”

 

Kesimpulan

Ziarah kubur merupakan salah satu kegiatan yang dapat memantik rasa mendalam dalam memaknai kematian. Bahwa sesungguhnya kematian adalah suatu hal yang pasti dan beruntunglah orang yang sudah mempersiapkan untuk itu. Maka berziarah kuburlah untuk mengingat akhirat dan bukan untuk kepentingan dunia.

Hikmah ziarah kubur adalah untuk mendoakan yang telah meninggal dunia agar diberi keselamatan. Sedangkan hikmahnya bagi yang hidup adalah untuk mengingatkan pada kematian.

Pada akhirnya kita mengetahui bahwa hukum perempuan ziarah saat haid adalah diperbolehkan, hanya saja harus dengan batasan-batasan yang sudah Islam tentukan.

Kita harus mengindari kepercayaan-kepercayaan yang sifatnya bathil, atau tidak berasal dari sumber yang jelas. Manakala tidak ada satu riwayatpun dari Rasulullah SAW yang melarang perkara ini, maka tidak boleh dihukumi haram. Karena, Rasulullah sendiri tidak mengharamkannya.